Malam ini hujan begitu
lebatnya. Langit seperti seorang Ibu di kampungku yang sedang memarahi anaknya
karena terlalu asyik main di Sungai Mahakam. Rasanya langit disana sudah tak
mampu lagi menampung debit air yang tersimpan sejak lama. Kubuka tirai jendela,
menengok sejenak berapa banyak tumpahan langit itu. Ternyata air sudah
menggenang semata kaki di depan rumah.
Hujan masih saja lebat,
sementara adzan subuh sudah dikumandangkan lewat aplikasi android yang kupasang
di HP. Maklum, suara adzan dari masjid tidak terdengar sampai rumah tempatku
beristirahat. Iya, aplikasi yang bernama “Jadwal Shalat” yang kuunduh secara
gratis. Tepat pukul 05.00 ku beranjak dari kasur, lalu mengambil air wudhu dan
sembahyang. Selesai sembahyang, aku menggerutu tentang hujan yang tak kunjung
reda.
Ah, sudah tidak bisa
membayangkan lagi seperti apa jadinya jalanan menuju kota kalau hujan selebat
ini. Pasti becek, lengket, licin, penuh kubangan, dan hal lain yang belum
pernah aku bayangkan. Kenapa aku sibuk membayangkan jalan ke kota yang diguyur
hujan semalaman? Bukanakah diam di kasur lebih menyenangkan dikala hujan
seperti ini? Atau menyeduh Kopi Lampung buah tangan kawan guru yang kemarin
pulang liburan. Atau juga menggoreng singkong yang sudah susah-susah diantar
siswa kemarin sore. Ah, itu memang nikmat, tapi ada hal yang harus dikerjakan
ke kota.
Siang nanti aku harus
sudah sampai di kota, tepatnya di Perpustakaan Daerah. Ke kota, kalau dari kampungku
jaraknya sekitar Semarang-Kendal, dengan jalan tanah yang masih mendominasi.
Selain jalan tanah, perbukitan juga masih harus dinaiki dan kemudian dituruni.
Tak hanya itu, masih harus naik ferry juga
untuk menyeberangi Mahakam yang begitu luas. Tujuanku ke Pepustakaan Daerah
untuk mengembalikan buku yang sudah ku pinjam sebulan yang lalu. Kenapa harus
hari ini juga ya karena ini sudah saatnya di kembalikan.
Ada 150 judul buku yang
harus dikembalikan, sementara hujan sudah mulai mereda. Mungkin air dilangit
sana sudah mulai berkurang, atau mungkin langit sudah cukup puas. Selepas hujan
reda, semua buku yang sudah tertata rapi di kardus, kunaikkan ke atas motor.
Lalu diikat kencang-kencang menggunakan ban dalam bekas. Keraguan muncul saat
kunyalakan mesin motor. Jalan tanah yang diguyur hujan semalaman yang nantinya
dilewati akan seperti apa. Ditambah lagi membawa buku yang beratnya hampir sama
dengan tubuhku. Kumatikan mesin motor, mengeluarkan HP dari dalam tas, lalu
mencari nomor Kepala Perpus dan mengirim pesan singkat
Meskipun mendapat
tambahan hari untuk mengembalikan buku, aku masih saja bingung. Takutnya
kepercayaan yang sudah kubangun dengan susah, hancur gara-gara telat
mengembalikan buku. Bukan itu saja, khawatir kalau tidak diberikan izin lagi
untuk meminjam buku. Apa jadinya taman baca yang sedang dirintis ini tanpa
dukungan dari perpustakaan daerah. Terus apa yang harus kujawab kalau nanti
anak-anak menanyakan buku-buku baru, menanyakan judul dongeng yang ingin mereka
baca. Pikiran tersebut terus memenuhi otak, sementara otak terus bersepekulasi,
mencari jalan amannya.
Singkat cerita,
kuputuskanlah untuk tetap menerjang jalan tanah yang pastinya hancur menjadi
lumpur karena diguyur hujan semalaman. Benar saja, jalanan sangat licin dan
becek. Genangan air dimana-mana. Kutemukan banyak bekas ban motor yang
tergelincir. Bahkan sesekali aku melihat pengendara motor yang jatuh karena
licinnya jalan. Ada juga yang terperosok ke lumpur, hingga mesin motor tak
mampu menggerakkan roda. Banyak juga yang ban motornya “mendonat” karena lumpur
yang begitu tebal.
Aku harus sangat
berhati-hati, agar tidak terjatuh ke lumpur yang nantinya akan merusak
buku-buku yang ku bawa. Kubawa motor pelan-pelan. Ban belakang sesekali
tergelincir, kemudian aku berhenti untuk menenangkan diri. Perjalanan terasa
begitu lama, hingga banyak yang kupikirkan saat mengendarai motor. Banyak
sekali yang kurenungkan. Malu juga dulu sering teriak-teriak karena aspal di
dekat rumah yang mulai rusak. Sementara banyak saudara disini yang hampir
setiap hari melewati jalan seperti ini. Bagaimanapun kondisinya, aku harus
sampai perpustakaan dengan kondisi buku yang masih utuh. Biar kaki dan celana
dipenuhi lumpur, asalkan jangan buku. Karena buku-buku ini sangat berarti bagi
anak-anak dikampungku.
Dari situ aku berpikir,
betapa mudahnya hidupku dulu. Sekolah-sekolah sudah menyediakan buku yang
begitu lengkap, tinggal kita saja yang mau membaca atau tidak. Bahkan desa-desa
sudah menyediakan perpustakaan. Sementara disini, perpustakaan di sekolah
seperti sebuah formalitas. Hanya buku paket yang disediakan dan beberapa koran
“basi” yang bisa dibaca anak-anak.
Aku sadar, disini aku
bukanlah Superman, yang bisa apapun untuk merubah segala hal menjadi lebih
baik. Aku hanya bisa berdoa agar terus diberi kesehatan agar bisa melakukan apa
yang bisa dilakukan.
**********



Tidak ada komentar:
Posting Komentar