Artikel

Selasa, 12 Juli 2016

Belajarlah dengan Siswa di dekat Hulu Sungai Mahakam, ‘Dek



Bulan Juni, Partainya Lek Marhaen sibuk dengan serangkaian acara dalam memeriahkan Bulan Bung Karno. Sementara mahasiswa juga tak kalah sibuk. Benar, sibuk dengan persiapan ujian semester. Malah ada juga mahasiswa yang sibuk mengatur jadwal ketemu dosen pembimbing yang “jalan-jalan” berbalut Penelitian Pengabdian Masyarakat.
Setiap menjelang ujian semseter, mahasiswa seringkali menggelar acara ceremonial, “Deklarasi Ujian Tanpa Mencontek”. Eh maaf ‘dek mahasiswa, saya kok malah menyebut acara ceremonial. Maklum kalau dengar kata deklarasi, pikirannya langsung negatif saja. Mirip kalau dengar iklan pewangi pakaian yang dibintangi Mbak Dona, benar, sudah ditegur KPI dan sekaran Mbak Dona sudah membacanya sesuai dengan tulisan. Vanish. Bagaimana enggak negatif coba, Mbak Dona mengucapkannya venis. Coba kalau orang Sunda yang membacanya. Ah, syudahlah. Kok malah iklan yang dibicarakan to.
Baik, kembali lagi ke deklarasi. Kata deklarasi seringkali membuat saya berpikir sebaliknya. Deklarasi Pemilu tanpa Money Politic. Nyatanya banyak ditemukan pembagian mie instan, sembako, bahkan uang, dan tentunya pupu para biduan. Satu lagi, Deklarasi Sekolah tanpa Tembakau. Buktinya disudut-sudut toilet siswa masih ditemukan putung rokok. Di ruang guru, masih ada asbak penuh latu. Ups... maaf ya para aktivis penggagas UU Perlindungan Guru, bukan bermaksud negatif hlo. Tidak bisa dipungkiri kok, memang masih banyak guru yang merokok di ruang guru.
Sumpah hlo ‘dek mahasiswa. Saya tidak berpikir sebaliknya atas deklarasi yang sampean lakukan. Sampean pasti tidak pernah mencontek saat ujian. Apalagi menulis ulang soal ujian di google. Tapi ‘dek mahasiswa, saya kok jadi kepingin tahu latar belakang deklarasi tersebut. Pasti ada dong yang melatarbelakanginya.
Lihat saja, deklarasi pemilu anti money politic dilatarbelakangi oleh maraknya politik uang di lapangan. Deklarasi sekolah anti rokok juga dilatarbelakangi adanya warga sekolah yang masih merokok di lingkungan sekolah. Hla kalau deklarasi ujian tanpa mencontek? Ah, lagi-lagi. Maafkan saya ‘dek mahasiswa. Saya tidak berpikiran seperti pada dua deklarasi sebelumnya. Sampean jangan marah ya.
‘Dek mahasiswa, perlu kalian ketahui, murid-murid saya di dekat hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, tidak pernah menggelar deklarasi seperti yang sampean lakukan setiap menjelang ujian. Ujian apapun. Semesteran maupun ujian nasional yang baru saja selesai. Dalam pelaksanaan ujian, mereka tidak pernah melakukan (maaf) hal kotor seperti melihat pekerjaan teman atau melihat buku catatan a.k.a mencontek. Betapa masih jujurnya mereka bukan? Apakah ini yang disebut generasi emas?
Menurut hemat saya, tidak adanya kebiasaan mencontek, menjadikan siswa-siswa menganggap tidak perlu membuat acara deklarasi ujuan tanpa mencontek. Sekali lagi ‘dek mahasiswa, saya tidak berpikiran kalau disekitar sampean masih banyak yang mencontek. Makanya beberapa Lembaga Mahasiswa merasa perlu mengadakan acara tersebut.
Tapi kok saya tetap berpikiran kalau masih ada yang suka mencontek (maaf ‘dek, saya bukan Dewa yang selalu suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan). Lemabaga Kemahasiswaan tidak akan bergerak kalau bukan berangkat dari sebuah keresahan. Pasti ada yang membuat mereka resah.
Jujur saja ‘dek, jika memang masih ada, belajarlah dari siswa-siswa di dekat hulu Sungai Mahakam ‘dek. Jangan malu. Mereka bukan anak kecil kok. Sampean mungkin banyak yang seumuran dengan mereka (dengan catatan mahasiswa semster awal hlo, bukan mahasiswa yang sudah dapat surat cinta dari Dekan). Bedanya, sampean mahasiswa, mereka siswa SMP. Kenalan dulu, ngobrol-ngobrol, barangkali jodoh, eh barangkali mau belajar dengan mereka.
(ketika sedang asyik mengetik, tiba-tiba dari belakang salah satu siswa berkomentar)
“Pak, itu kok menggunakan kata mencontek. Bukannya di dalam KBBI kata dasar yang tepat adalah sontek? Jadi kalau mendapatkan awalan me-, fonem /s/ luluh, menjadi menyontek. Contoh lain pada kata dasar sapu, mendapat awalan me- menjadi menyapu.”
Duh Gusti, wirang tenan aku, podo wirange karo mahasiswa sing ujian jeh nyontek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.