Bulan Juni, Partainya Lek Marhaen sibuk dengan serangkaian
acara dalam memeriahkan Bulan Bung Karno. Sementara mahasiswa juga tak kalah
sibuk. Benar, sibuk dengan persiapan ujian semester. Malah ada juga mahasiswa
yang sibuk mengatur jadwal ketemu dosen pembimbing yang “jalan-jalan” berbalut
Penelitian Pengabdian Masyarakat.
Setiap menjelang ujian semseter,
mahasiswa seringkali menggelar acara ceremonial,
“Deklarasi Ujian Tanpa Mencontek”. Eh maaf ‘dek mahasiswa, saya kok malah menyebut acara ceremonial. Maklum kalau dengar kata deklarasi, pikirannya langsung
negatif saja. Mirip kalau dengar iklan pewangi pakaian yang dibintangi Mbak
Dona, benar, sudah ditegur KPI dan sekaran Mbak Dona sudah membacanya sesuai
dengan tulisan. Vanish. Bagaimana
enggak negatif coba, Mbak Dona mengucapkannya venis. Coba kalau orang Sunda yang membacanya. Ah, syudahlah. Kok
malah iklan yang dibicarakan to.
Baik, kembali lagi ke deklarasi. Kata
deklarasi seringkali membuat saya berpikir sebaliknya. Deklarasi Pemilu tanpa Money Politic. Nyatanya banyak ditemukan
pembagian mie instan, sembako, bahkan uang, dan tentunya pupu para biduan. Satu lagi, Deklarasi Sekolah tanpa Tembakau.
Buktinya disudut-sudut toilet siswa masih ditemukan putung rokok. Di ruang
guru, masih ada asbak penuh latu. Ups...
maaf ya para aktivis penggagas UU Perlindungan Guru, bukan bermaksud negatif
hlo. Tidak bisa dipungkiri kok, memang masih banyak guru yang merokok di ruang
guru.
Sumpah hlo ‘dek mahasiswa. Saya tidak berpikir sebaliknya atas deklarasi yang sampean lakukan. Sampean pasti tidak pernah mencontek saat ujian. Apalagi menulis
ulang soal ujian di google. Tapi ‘dek mahasiswa, saya kok jadi kepingin
tahu latar belakang deklarasi tersebut. Pasti ada dong yang melatarbelakanginya.
Lihat saja, deklarasi pemilu anti money politic dilatarbelakangi oleh
maraknya politik uang di lapangan. Deklarasi sekolah anti rokok juga dilatarbelakangi
adanya warga sekolah yang masih merokok di lingkungan sekolah. Hla kalau
deklarasi ujian tanpa mencontek? Ah, lagi-lagi. Maafkan saya ‘dek mahasiswa. Saya tidak berpikiran
seperti pada dua deklarasi sebelumnya. Sampean
jangan marah ya.
‘Dek mahasiswa, perlu kalian ketahui, murid-murid saya
di dekat hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, tidak pernah menggelar
deklarasi seperti yang sampean lakukan
setiap menjelang ujian. Ujian apapun. Semesteran maupun ujian nasional yang
baru saja selesai. Dalam pelaksanaan ujian, mereka tidak pernah melakukan
(maaf) hal kotor seperti melihat
pekerjaan teman atau melihat buku catatan a.k.a
mencontek. Betapa masih jujurnya mereka bukan? Apakah ini yang disebut generasi
emas?
Menurut hemat saya, tidak adanya kebiasaan
mencontek, menjadikan siswa-siswa menganggap tidak perlu membuat acara
deklarasi ujuan tanpa mencontek. Sekali lagi ‘dek mahasiswa, saya tidak berpikiran kalau disekitar sampean masih banyak yang mencontek.
Makanya beberapa Lembaga Mahasiswa merasa perlu mengadakan acara tersebut.
Tapi kok saya tetap berpikiran kalau
masih ada yang suka mencontek (maaf ‘dek,
saya bukan Dewa yang selalu suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan).
Lemabaga Kemahasiswaan tidak akan bergerak kalau bukan berangkat dari sebuah
keresahan. Pasti ada yang membuat mereka resah.
Jujur saja ‘dek, jika memang masih ada, belajarlah dari siswa-siswa di dekat
hulu Sungai Mahakam ‘dek. Jangan
malu. Mereka bukan anak kecil kok. Sampean
mungkin banyak yang seumuran dengan mereka (dengan catatan mahasiswa
semster awal hlo, bukan mahasiswa yang sudah dapat surat cinta dari Dekan).
Bedanya, sampean mahasiswa, mereka
siswa SMP. Kenalan dulu, ngobrol-ngobrol, barangkali jodoh, eh barangkali mau
belajar dengan mereka.
(ketika sedang
asyik mengetik, tiba-tiba dari belakang salah satu siswa berkomentar)
“Pak, itu kok menggunakan kata
mencontek. Bukannya di dalam KBBI kata dasar yang tepat adalah sontek? Jadi
kalau mendapatkan awalan me-, fonem /s/ luluh, menjadi menyontek. Contoh lain
pada kata dasar sapu, mendapat awalan me- menjadi menyapu.”
Duh
Gusti, wirang tenan aku, podo wirange karo mahasiswa sing ujian jeh nyontek.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar