Artikel

Jumat, 08 Januari 2016

Percaya, Lakukan!




Malam ini hujan begitu lebatnya. Langit seperti seorang Ibu di kampungku yang sedang memarahi anaknya karena terlalu asyik main di Sungai Mahakam. Rasanya langit disana sudah tak mampu lagi menampung debit air yang tersimpan sejak lama. Kubuka tirai jendela, menengok sejenak berapa banyak tumpahan langit itu. Ternyata air sudah menggenang semata kaki di depan rumah.
Hujan masih saja lebat, sementara adzan subuh sudah dikumandangkan lewat aplikasi android yang kupasang di HP. Maklum, suara adzan dari masjid tidak terdengar sampai rumah tempatku beristirahat. Iya, aplikasi yang bernama “Jadwal Shalat” yang kuunduh secara gratis. Tepat pukul 05.00 ku beranjak dari kasur, lalu mengambil air wudhu dan sembahyang. Selesai sembahyang, aku menggerutu tentang hujan yang tak kunjung reda.
Ah, sudah tidak bisa membayangkan lagi seperti apa jadinya jalanan menuju kota kalau hujan selebat ini. Pasti becek, lengket, licin, penuh kubangan, dan hal lain yang belum pernah aku bayangkan. Kenapa aku sibuk membayangkan jalan ke kota yang diguyur hujan semalaman? Bukanakah diam di kasur lebih menyenangkan dikala hujan seperti ini? Atau menyeduh Kopi Lampung buah tangan kawan guru yang kemarin pulang liburan. Atau juga menggoreng singkong yang sudah susah-susah diantar siswa kemarin sore. Ah, itu memang nikmat, tapi ada hal yang harus dikerjakan ke kota.
Siang nanti aku harus sudah sampai di kota, tepatnya di Perpustakaan Daerah. Ke kota, kalau dari kampungku jaraknya sekitar Semarang-Kendal, dengan jalan tanah yang masih mendominasi. Selain jalan tanah, perbukitan juga masih harus dinaiki dan kemudian dituruni. Tak hanya itu, masih harus naik ferry juga untuk menyeberangi Mahakam yang begitu luas. Tujuanku ke Pepustakaan Daerah untuk mengembalikan buku yang sudah ku pinjam sebulan yang lalu. Kenapa harus hari ini juga ya karena ini sudah saatnya di kembalikan.
Ada 150 judul buku yang harus dikembalikan, sementara hujan sudah mulai mereda. Mungkin air dilangit sana sudah mulai berkurang, atau mungkin langit sudah cukup puas. Selepas hujan reda, semua buku yang sudah tertata rapi di kardus, kunaikkan ke atas motor. Lalu diikat kencang-kencang menggunakan ban dalam bekas. Keraguan muncul saat kunyalakan mesin motor. Jalan tanah yang diguyur hujan semalaman yang nantinya dilewati akan seperti apa. Ditambah lagi membawa buku yang beratnya hampir sama dengan tubuhku. Kumatikan mesin motor, mengeluarkan HP dari dalam tas, lalu mencari nomor Kepala Perpus dan mengirim pesan singkat


Meskipun mendapat tambahan hari untuk mengembalikan buku, aku masih saja bingung. Takutnya kepercayaan yang sudah kubangun dengan susah, hancur gara-gara telat mengembalikan buku. Bukan itu saja, khawatir kalau tidak diberikan izin lagi untuk meminjam buku. Apa jadinya taman baca yang sedang dirintis ini tanpa dukungan dari perpustakaan daerah. Terus apa yang harus kujawab kalau nanti anak-anak menanyakan buku-buku baru, menanyakan judul dongeng yang ingin mereka baca. Pikiran tersebut terus memenuhi otak, sementara otak terus bersepekulasi, mencari jalan amannya.
Singkat cerita, kuputuskanlah untuk tetap menerjang jalan tanah yang pastinya hancur menjadi lumpur karena diguyur hujan semalaman. Benar saja, jalanan sangat licin dan becek. Genangan air dimana-mana. Kutemukan banyak bekas ban motor yang tergelincir. Bahkan sesekali aku melihat pengendara motor yang jatuh karena licinnya jalan. Ada juga yang terperosok ke lumpur, hingga mesin motor tak mampu menggerakkan roda. Banyak juga yang ban motornya “mendonat” karena lumpur yang begitu tebal.
Aku harus sangat berhati-hati, agar tidak terjatuh ke lumpur yang nantinya akan merusak buku-buku yang ku bawa. Kubawa motor pelan-pelan. Ban belakang sesekali tergelincir, kemudian aku berhenti untuk menenangkan diri. Perjalanan terasa begitu lama, hingga banyak yang kupikirkan saat mengendarai motor. Banyak sekali yang kurenungkan. Malu juga dulu sering teriak-teriak karena aspal di dekat rumah yang mulai rusak. Sementara banyak saudara disini yang hampir setiap hari melewati jalan seperti ini. Bagaimanapun kondisinya, aku harus sampai perpustakaan dengan kondisi buku yang masih utuh. Biar kaki dan celana dipenuhi lumpur, asalkan jangan buku. Karena buku-buku ini sangat berarti bagi anak-anak dikampungku.
Dari situ aku berpikir, betapa mudahnya hidupku dulu. Sekolah-sekolah sudah menyediakan buku yang begitu lengkap, tinggal kita saja yang mau membaca atau tidak. Bahkan desa-desa sudah menyediakan perpustakaan. Sementara disini, perpustakaan di sekolah seperti sebuah formalitas. Hanya buku paket yang disediakan dan beberapa koran “basi” yang bisa dibaca anak-anak.
Aku sadar, disini aku bukanlah Superman, yang bisa apapun untuk merubah segala hal menjadi lebih baik. Aku hanya bisa berdoa agar terus diberi kesehatan agar bisa melakukan apa yang bisa dilakukan.
**********
Baca selengkapnya »
Diberdayakan oleh Blogger.