 |
Festival Anak Soleh 2016 Masjid Baitul Munawarah Kampung Muara Jawaq,
Kec. Mook Manaar Bulatn, Kab. Kutai Barat
|
SM-3T merupakan Program
Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan
pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) selama satu tahun.
Dari pengertiannya saja sudah jelas dia akan pergi meninggalkanmu selama satu
tahun. Bukan hanya pergi setahun, dia harus bertugas di daerah terdepan,
terluar, dan tertinggal. Kebayang kan bagaimana jauhnya dari kamu? Kebayang
juga kan bagaimana susahnya untuk bertemu kalau kamu merindukan dia?
Ada beberapa hal yang
harus kamu pertimbangkan saat dia tiba-tiba meminta izin untuk ikut program
tersebut. Apalagi untuk kamu yang tidak bisa jauh dari dia. Berikut ini
kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi saat dia mengikuti program SM-3T.
1.
Tidak Perhatian Lagi
Ketika dia mengikuti
program SM-3T, dia akan ditugaskan di daerah yang masih sangat tertinggal.
Tentunya smartphone dia tidak akan mendapatkan sinyal HSDPA atau 4G. Bisa
bayangkan kan ketika kebiasaanmu dengan dia ber-videocall-an, tiba-tiba menjadi tidak bisa lagi. Pasti hubungan
kalian agak terasa aneh bukan? Memang sih, masih bisa SMS dan Telpon, tapi
apakah menjamin, smartphone dia akan menyala terus? Perlu kamu ketahui, di
daerah yang tertinggal, listrik PLN banyak yang belum masuk. Penerangan banyak
yang masih menggunakan pelita, terus bagaimana dia bakalan nge-cas smartphone-nya? Kalau smartphone-nya mati berhari-hari
bagaimana? Terus bagaimana jika mendadak dia tidak perhatian denganmu? Dia
tidak lagi seperti dulu yang selalu mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat malam, met bobo, jangan lupa makan
ya, dan ucapan-ucapan lainnya yang bisa membuatmu diperhatikan.
2.
Terlalu Sibuk
Sesampainya di lokasi,
kekasihmu sepertinya akan lebih sibuk dari biasanya. Saya yakin, dia tidak
hanya mengajar sesuai jadwal yang telah ditentukan. Saya yakin, jika ada jam
kosong ataupun guru tidak datang untuk mengajar, kekasihmu akan masuk dan
mengajar kelas tersebut menggantikan guru yang tidak datang. Ketika ada salah
satu guru mengecat pagarsekolah, saya yakin kekasihmu tidak hanya diam dan
pura-pura tidur siang, pasti kekasihmu akan membantunya. Ketika ada kegiatan di
Kampung, saya yakin kekasihmu tidak sebagai penonton, namun sebagai salah satu
penyelenggara. Ketika ada orang meninggal, saya yakin kekasihmu tidak hanya
datang makan saja, melainkan datang membatu memotong kayu untuk masak, dan itu
berlangsung beberapa hari.
Dan saya yakin pula,
kekasihmu akan menemui kegiatan-kegiatan yang dia terlibat tanpa harus disuruh.
Saya yakin itu.
3.
Milik Masyarakat
Milik masyarakat?
Wow... keren! Tentu kamu bakalan merasakan sensasi yang luar biasa bukan ketika
tahu kekasihmu begitu dibutuhkan masyarakat. Ayah-able banget kan yang seperti
itu? Selain tugas pokoknya mengajar, mereka yang mengikuti SM-3T punya agenda
lain, yaitu bermasyarakat. Setiap orang pasti dong bermasyarakat, kamu juga
kan? Ya meskipun sekarang belum. Hahahaha.
Di beberapa daerah 3T,
ada yang menganggap Guru pendatang itu serba bisa dan serba tahu (tidak
semuanya seperti itu sih, tapi beberapa lokasi memang ada). Hal ini membuat
peserta SM-3T harus sering di masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan. Nah,
gimana tuh, kalau misalnya ada Kepala Suku yang ingin menjadikan kekasihmu
sebagai menantunya? Atau karena sering di masyarakat membuat kekasihmu sering
mendapatkan makanan dari warga? Kalau makanan biasa saja sih ndak masalah, tapi
kalau sudah di beri Ancan (pelet Suku
Dayak)? Hahahaha.
Dan lagi-lagi, ketika
kekasihmu terlalu dibutuhkan masyarakat, perhatian ke kamu kembali berkurang.
Kamu siap?
4.
Menunda Menikah, 3 Tahun
Nah, ini yang begitu
berat. Apalagi untuk Mbak-Mbak baper
yang ingin segera menimang anak. Atau juga Mbak-Mbak
baper yang sudah diperbincangkan tetangga kanan-kiri. Bisikan perawan tua benar-benar jahat dan menyudutkan,
tuduhan itu benar-benar tidak mendasar menurut saya. Kamu pernah kan dituduh
begitu? Kalau belum, tetanggamu keren! Coba saja, sesekali para tetangga itu
menanyakan kepada tetangganya, mengapa kok belum menikah. Tentu alasannya bukan
karena kekasihnya mengikuti SM-3T.
Program ini berlangsung
selama satu tahun. Setelah selesai mengabdi selama satu tahun, masih
dilanjutkan dengan Program Profesi Guru (PPG) selama satu tahun. Artinya dua
tahun terikat kontrak. Selama itu, peserta juga menandatangani perjanjian untuk
tidak menikah selama mengikuti program. Nah, kenapa bisa 3 tahun? Nah, yang
satu tahun lagi untuk menguatkan hati, mematangkan keyakinan, dan ehem....
Bagaimana?? Sudah siap
dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakalan muncul? Banyak kok yang berhasil
melewatinya, namun tidak sedikit yang gagal dalam mempertahankan hubungannya.
Kalau masih ragu, coba tanyakan pada hatimu lagi. Kalau sudah mantep, silakan
beri dia kesempatan untuk berbakti pada negara. Ingat, cinta itu bukan melepas,
namun merelakan. Bukan juga merantai, namun memberi sayap.
Muara Jawaq, Desember 2015
Kutai Barat, Kalimantan Timur