KERJAKATA

Artikel

Senin, 01 Mei 2017

Langit Memutih

Pagi ini, langit nampak putih
Tak ada rona biru yang berusaha memanjakan mata
Koran pun selalu membahas wisma atlet
Dan yang menghebohkan lagi,
Indonesia yang kalah dari bahrain, 0-10
Memalukan bukan?
Atau ada yang bangga?

Ah, itu jawab masing-masing ya
Langit masih saja putih
Pertandakah bumi ini menyerah?
Pertandakah jika bangsa ini kalah?
Atau pertandakah negeri ini suci?
Entahlah, silakan jawab masing-masing lagi

Langit pagi ini benar-benar tak memanjakan mata,
Angin yang kering di musim penghujan
Menjadikan virus terus berkembang
Harus hingga kapan langit terus memutih, Indonesia.


Semarang, 2 Maret 2012
Baca selengkapnya »

Sabtu, 05 November 2016

Jika Masih Sayang Pacarmu, Jangan Izinkan Dia Ikut SM-3T!

Festival Anak Soleh 2016 Masjid Baitul Munawarah Kampung Muara Jawaq,
Kec. Mook Manaar Bulatn, Kab. Kutai Barat
SM-3T merupakan Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) selama satu tahun. Dari pengertiannya saja sudah jelas dia akan pergi meninggalkanmu selama satu tahun. Bukan hanya pergi setahun, dia harus bertugas di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Kebayang kan bagaimana jauhnya dari kamu? Kebayang juga kan bagaimana susahnya untuk bertemu kalau kamu merindukan dia?
Ada beberapa hal yang harus kamu pertimbangkan saat dia tiba-tiba meminta izin untuk ikut program tersebut. Apalagi untuk kamu yang tidak bisa jauh dari dia. Berikut ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi saat dia mengikuti program SM-3T.
1.      Tidak Perhatian Lagi
Ketika dia mengikuti program SM-3T, dia akan ditugaskan di daerah yang masih sangat tertinggal. Tentunya smartphone dia tidak akan mendapatkan sinyal HSDPA atau 4G. Bisa bayangkan kan ketika kebiasaanmu dengan dia ber-videocall-an, tiba-tiba menjadi tidak bisa lagi. Pasti hubungan kalian agak terasa aneh bukan? Memang sih, masih bisa SMS dan Telpon, tapi apakah menjamin, smartphone dia akan menyala terus? Perlu kamu ketahui, di daerah yang tertinggal, listrik PLN banyak yang belum masuk. Penerangan banyak yang masih menggunakan pelita, terus bagaimana dia bakalan nge-cas smartphone-nya? Kalau smartphone-nya mati berhari-hari bagaimana? Terus bagaimana jika mendadak dia tidak perhatian denganmu? Dia tidak lagi seperti dulu yang selalu mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat malam, met bobo, jangan lupa makan ya, dan ucapan-ucapan lainnya yang bisa membuatmu diperhatikan.
2.      Terlalu Sibuk
Sesampainya di lokasi, kekasihmu sepertinya akan lebih sibuk dari biasanya. Saya yakin, dia tidak hanya mengajar sesuai jadwal yang telah ditentukan. Saya yakin, jika ada jam kosong ataupun guru tidak datang untuk mengajar, kekasihmu akan masuk dan mengajar kelas tersebut menggantikan guru yang tidak datang. Ketika ada salah satu guru mengecat pagarsekolah, saya yakin kekasihmu tidak hanya diam dan pura-pura tidur siang, pasti kekasihmu akan membantunya. Ketika ada kegiatan di Kampung, saya yakin kekasihmu tidak sebagai penonton, namun sebagai salah satu penyelenggara. Ketika ada orang meninggal, saya yakin kekasihmu tidak hanya datang makan saja, melainkan datang membatu memotong kayu untuk masak, dan itu berlangsung beberapa hari.
Dan saya yakin pula, kekasihmu akan menemui kegiatan-kegiatan yang dia terlibat tanpa harus disuruh. Saya yakin itu.
3.      Milik Masyarakat
Milik masyarakat? Wow... keren! Tentu kamu bakalan merasakan sensasi yang luar biasa bukan ketika tahu kekasihmu begitu dibutuhkan masyarakat. Ayah-able banget kan yang seperti itu? Selain tugas pokoknya mengajar, mereka yang mengikuti SM-3T punya agenda lain, yaitu bermasyarakat. Setiap orang pasti dong bermasyarakat, kamu juga kan? Ya meskipun sekarang belum. Hahahaha.
Di beberapa daerah 3T, ada yang menganggap Guru pendatang itu serba bisa dan serba tahu (tidak semuanya seperti itu sih, tapi beberapa lokasi memang ada). Hal ini membuat peserta SM-3T harus sering di masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan. Nah, gimana tuh, kalau misalnya ada Kepala Suku yang ingin menjadikan kekasihmu sebagai menantunya? Atau karena sering di masyarakat membuat kekasihmu sering mendapatkan makanan dari warga? Kalau makanan biasa saja sih ndak masalah, tapi kalau sudah di beri Ancan (pelet Suku Dayak)? Hahahaha.
Dan lagi-lagi, ketika kekasihmu terlalu dibutuhkan masyarakat, perhatian ke kamu kembali berkurang. Kamu siap?
4.      Menunda Menikah, 3 Tahun
Nah, ini yang begitu berat. Apalagi untuk Mbak-Mbak baper yang ingin segera menimang anak. Atau juga Mbak-Mbak baper yang sudah diperbincangkan tetangga kanan-kiri. Bisikan perawan tua benar-benar jahat dan menyudutkan, tuduhan itu benar-benar tidak mendasar menurut saya. Kamu pernah kan dituduh begitu? Kalau belum, tetanggamu keren! Coba saja, sesekali para tetangga itu menanyakan kepada tetangganya, mengapa kok belum menikah. Tentu alasannya bukan karena kekasihnya mengikuti SM-3T.
Program ini berlangsung selama satu tahun. Setelah selesai mengabdi selama satu tahun, masih dilanjutkan dengan Program Profesi Guru (PPG) selama satu tahun. Artinya dua tahun terikat kontrak. Selama itu, peserta juga menandatangani perjanjian untuk tidak menikah selama mengikuti program. Nah, kenapa bisa 3 tahun? Nah, yang satu tahun lagi untuk menguatkan hati, mematangkan keyakinan, dan ehem....
Bagaimana?? Sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakalan muncul? Banyak kok yang berhasil melewatinya, namun tidak sedikit yang gagal dalam mempertahankan hubungannya. Kalau masih ragu, coba tanyakan pada hatimu lagi. Kalau sudah mantep, silakan beri dia kesempatan untuk berbakti pada negara. Ingat, cinta itu bukan melepas, namun merelakan. Bukan juga merantai, namun memberi sayap.

Muara Jawaq, Desember 2015

Kutai Barat, Kalimantan Timur
Baca selengkapnya »

Jumat, 05 Agustus 2016

Birotekno - Krat

Para Teknokrat yang berkarat
Diam yang penting berangkat
Para Birokrat yang terhormat
Kerja tanpa berkeringat


Pat - pat - pat... melompat
Teknokrat berjurus silat
Lat - lat - lat... menjilat
Si Birokrat naik pangkat


Kat - mangkat, kapan mereka mangkat.


Sendawar, 14 Juli 2016
Baca selengkapnya »

Selasa, 12 Juli 2016

Belajarlah dengan Siswa di dekat Hulu Sungai Mahakam, ‘Dek



Bulan Juni, Partainya Lek Marhaen sibuk dengan serangkaian acara dalam memeriahkan Bulan Bung Karno. Sementara mahasiswa juga tak kalah sibuk. Benar, sibuk dengan persiapan ujian semester. Malah ada juga mahasiswa yang sibuk mengatur jadwal ketemu dosen pembimbing yang “jalan-jalan” berbalut Penelitian Pengabdian Masyarakat.
Setiap menjelang ujian semseter, mahasiswa seringkali menggelar acara ceremonial, “Deklarasi Ujian Tanpa Mencontek”. Eh maaf ‘dek mahasiswa, saya kok malah menyebut acara ceremonial. Maklum kalau dengar kata deklarasi, pikirannya langsung negatif saja. Mirip kalau dengar iklan pewangi pakaian yang dibintangi Mbak Dona, benar, sudah ditegur KPI dan sekaran Mbak Dona sudah membacanya sesuai dengan tulisan. Vanish. Bagaimana enggak negatif coba, Mbak Dona mengucapkannya venis. Coba kalau orang Sunda yang membacanya. Ah, syudahlah. Kok malah iklan yang dibicarakan to.
Baik, kembali lagi ke deklarasi. Kata deklarasi seringkali membuat saya berpikir sebaliknya. Deklarasi Pemilu tanpa Money Politic. Nyatanya banyak ditemukan pembagian mie instan, sembako, bahkan uang, dan tentunya pupu para biduan. Satu lagi, Deklarasi Sekolah tanpa Tembakau. Buktinya disudut-sudut toilet siswa masih ditemukan putung rokok. Di ruang guru, masih ada asbak penuh latu. Ups... maaf ya para aktivis penggagas UU Perlindungan Guru, bukan bermaksud negatif hlo. Tidak bisa dipungkiri kok, memang masih banyak guru yang merokok di ruang guru.
Sumpah hlo ‘dek mahasiswa. Saya tidak berpikir sebaliknya atas deklarasi yang sampean lakukan. Sampean pasti tidak pernah mencontek saat ujian. Apalagi menulis ulang soal ujian di google. Tapi ‘dek mahasiswa, saya kok jadi kepingin tahu latar belakang deklarasi tersebut. Pasti ada dong yang melatarbelakanginya.
Lihat saja, deklarasi pemilu anti money politic dilatarbelakangi oleh maraknya politik uang di lapangan. Deklarasi sekolah anti rokok juga dilatarbelakangi adanya warga sekolah yang masih merokok di lingkungan sekolah. Hla kalau deklarasi ujian tanpa mencontek? Ah, lagi-lagi. Maafkan saya ‘dek mahasiswa. Saya tidak berpikiran seperti pada dua deklarasi sebelumnya. Sampean jangan marah ya.
‘Dek mahasiswa, perlu kalian ketahui, murid-murid saya di dekat hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, tidak pernah menggelar deklarasi seperti yang sampean lakukan setiap menjelang ujian. Ujian apapun. Semesteran maupun ujian nasional yang baru saja selesai. Dalam pelaksanaan ujian, mereka tidak pernah melakukan (maaf) hal kotor seperti melihat pekerjaan teman atau melihat buku catatan a.k.a mencontek. Betapa masih jujurnya mereka bukan? Apakah ini yang disebut generasi emas?
Menurut hemat saya, tidak adanya kebiasaan mencontek, menjadikan siswa-siswa menganggap tidak perlu membuat acara deklarasi ujuan tanpa mencontek. Sekali lagi ‘dek mahasiswa, saya tidak berpikiran kalau disekitar sampean masih banyak yang mencontek. Makanya beberapa Lembaga Mahasiswa merasa perlu mengadakan acara tersebut.
Tapi kok saya tetap berpikiran kalau masih ada yang suka mencontek (maaf ‘dek, saya bukan Dewa yang selalu suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan). Lemabaga Kemahasiswaan tidak akan bergerak kalau bukan berangkat dari sebuah keresahan. Pasti ada yang membuat mereka resah.
Jujur saja ‘dek, jika memang masih ada, belajarlah dari siswa-siswa di dekat hulu Sungai Mahakam ‘dek. Jangan malu. Mereka bukan anak kecil kok. Sampean mungkin banyak yang seumuran dengan mereka (dengan catatan mahasiswa semster awal hlo, bukan mahasiswa yang sudah dapat surat cinta dari Dekan). Bedanya, sampean mahasiswa, mereka siswa SMP. Kenalan dulu, ngobrol-ngobrol, barangkali jodoh, eh barangkali mau belajar dengan mereka.
(ketika sedang asyik mengetik, tiba-tiba dari belakang salah satu siswa berkomentar)
“Pak, itu kok menggunakan kata mencontek. Bukannya di dalam KBBI kata dasar yang tepat adalah sontek? Jadi kalau mendapatkan awalan me-, fonem /s/ luluh, menjadi menyontek. Contoh lain pada kata dasar sapu, mendapat awalan me- menjadi menyapu.”
Duh Gusti, wirang tenan aku, podo wirange karo mahasiswa sing ujian jeh nyontek.
Baca selengkapnya »

Jumat, 08 Januari 2016

Percaya, Lakukan!




Malam ini hujan begitu lebatnya. Langit seperti seorang Ibu di kampungku yang sedang memarahi anaknya karena terlalu asyik main di Sungai Mahakam. Rasanya langit disana sudah tak mampu lagi menampung debit air yang tersimpan sejak lama. Kubuka tirai jendela, menengok sejenak berapa banyak tumpahan langit itu. Ternyata air sudah menggenang semata kaki di depan rumah.
Hujan masih saja lebat, sementara adzan subuh sudah dikumandangkan lewat aplikasi android yang kupasang di HP. Maklum, suara adzan dari masjid tidak terdengar sampai rumah tempatku beristirahat. Iya, aplikasi yang bernama “Jadwal Shalat” yang kuunduh secara gratis. Tepat pukul 05.00 ku beranjak dari kasur, lalu mengambil air wudhu dan sembahyang. Selesai sembahyang, aku menggerutu tentang hujan yang tak kunjung reda.
Ah, sudah tidak bisa membayangkan lagi seperti apa jadinya jalanan menuju kota kalau hujan selebat ini. Pasti becek, lengket, licin, penuh kubangan, dan hal lain yang belum pernah aku bayangkan. Kenapa aku sibuk membayangkan jalan ke kota yang diguyur hujan semalaman? Bukanakah diam di kasur lebih menyenangkan dikala hujan seperti ini? Atau menyeduh Kopi Lampung buah tangan kawan guru yang kemarin pulang liburan. Atau juga menggoreng singkong yang sudah susah-susah diantar siswa kemarin sore. Ah, itu memang nikmat, tapi ada hal yang harus dikerjakan ke kota.
Siang nanti aku harus sudah sampai di kota, tepatnya di Perpustakaan Daerah. Ke kota, kalau dari kampungku jaraknya sekitar Semarang-Kendal, dengan jalan tanah yang masih mendominasi. Selain jalan tanah, perbukitan juga masih harus dinaiki dan kemudian dituruni. Tak hanya itu, masih harus naik ferry juga untuk menyeberangi Mahakam yang begitu luas. Tujuanku ke Pepustakaan Daerah untuk mengembalikan buku yang sudah ku pinjam sebulan yang lalu. Kenapa harus hari ini juga ya karena ini sudah saatnya di kembalikan.
Ada 150 judul buku yang harus dikembalikan, sementara hujan sudah mulai mereda. Mungkin air dilangit sana sudah mulai berkurang, atau mungkin langit sudah cukup puas. Selepas hujan reda, semua buku yang sudah tertata rapi di kardus, kunaikkan ke atas motor. Lalu diikat kencang-kencang menggunakan ban dalam bekas. Keraguan muncul saat kunyalakan mesin motor. Jalan tanah yang diguyur hujan semalaman yang nantinya dilewati akan seperti apa. Ditambah lagi membawa buku yang beratnya hampir sama dengan tubuhku. Kumatikan mesin motor, mengeluarkan HP dari dalam tas, lalu mencari nomor Kepala Perpus dan mengirim pesan singkat


Meskipun mendapat tambahan hari untuk mengembalikan buku, aku masih saja bingung. Takutnya kepercayaan yang sudah kubangun dengan susah, hancur gara-gara telat mengembalikan buku. Bukan itu saja, khawatir kalau tidak diberikan izin lagi untuk meminjam buku. Apa jadinya taman baca yang sedang dirintis ini tanpa dukungan dari perpustakaan daerah. Terus apa yang harus kujawab kalau nanti anak-anak menanyakan buku-buku baru, menanyakan judul dongeng yang ingin mereka baca. Pikiran tersebut terus memenuhi otak, sementara otak terus bersepekulasi, mencari jalan amannya.
Singkat cerita, kuputuskanlah untuk tetap menerjang jalan tanah yang pastinya hancur menjadi lumpur karena diguyur hujan semalaman. Benar saja, jalanan sangat licin dan becek. Genangan air dimana-mana. Kutemukan banyak bekas ban motor yang tergelincir. Bahkan sesekali aku melihat pengendara motor yang jatuh karena licinnya jalan. Ada juga yang terperosok ke lumpur, hingga mesin motor tak mampu menggerakkan roda. Banyak juga yang ban motornya “mendonat” karena lumpur yang begitu tebal.
Aku harus sangat berhati-hati, agar tidak terjatuh ke lumpur yang nantinya akan merusak buku-buku yang ku bawa. Kubawa motor pelan-pelan. Ban belakang sesekali tergelincir, kemudian aku berhenti untuk menenangkan diri. Perjalanan terasa begitu lama, hingga banyak yang kupikirkan saat mengendarai motor. Banyak sekali yang kurenungkan. Malu juga dulu sering teriak-teriak karena aspal di dekat rumah yang mulai rusak. Sementara banyak saudara disini yang hampir setiap hari melewati jalan seperti ini. Bagaimanapun kondisinya, aku harus sampai perpustakaan dengan kondisi buku yang masih utuh. Biar kaki dan celana dipenuhi lumpur, asalkan jangan buku. Karena buku-buku ini sangat berarti bagi anak-anak dikampungku.
Dari situ aku berpikir, betapa mudahnya hidupku dulu. Sekolah-sekolah sudah menyediakan buku yang begitu lengkap, tinggal kita saja yang mau membaca atau tidak. Bahkan desa-desa sudah menyediakan perpustakaan. Sementara disini, perpustakaan di sekolah seperti sebuah formalitas. Hanya buku paket yang disediakan dan beberapa koran “basi” yang bisa dibaca anak-anak.
Aku sadar, disini aku bukanlah Superman, yang bisa apapun untuk merubah segala hal menjadi lebih baik. Aku hanya bisa berdoa agar terus diberi kesehatan agar bisa melakukan apa yang bisa dilakukan.
**********
Baca selengkapnya »
Diberdayakan oleh Blogger.